Arcapasa's Blog

Just another WordPress.com weblog

Teori kebidanan Oktober 5, 2009

Filed under: Uncategorized — arcapasa @ 8:50 am

TEORI MODEL KEBIDANAN

1. Teori Ruper, Lagan, dan Tietny Activity Of Living Model
Model yang dipengaruhi oleh Virginia Henderson Model’s. Terdiri dari 5 elemen yaitu :
a. Aktivitas kehidupan.
b. Ketergantungan atau kebebasan individu.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas individu.
Dalam model ini diidentifikasikan adanya 12 macam kebutuhan manusia sebagai dari proses kehidupan aman.
 Mempertahankan lingkungan yang aman
 Komunikasi
 Bernafas
 Makanan dan minuman
 Eliminasi
 Barpakaian dan kebebasan diri
 Pengaturan suhu tubuh
 Mobilisasi
 Bekerja dan bermain
 Seksualitas
 Tidur

2. Teori Rosermary Methuen
Merupakan aplikasi dari Oream dan Henderson, model terhadap asuhan kebidanan dimana dalam system keperawatan ada 5 metode pemberi bantuan :
a. Mengerjakan untuk klien
b. Membimbing untuk klien
c. Mendukung klien (fisik dan psikologis)
d. Menyediakan lingkungan yang mendukung
e. Mengerjakan klien
Peran bidan adalah mengidentifikasikan masalah klien dan melakukan suatu untuk membantu klien untuk memenuhi kebutuhannya. Manfaat dari model ini menurut Methuen adalah sebagai bukti praktik pengkajian yang tidak didasarkan pada kerangka kerja dari tradisi manapun, dasarnya adalah kesehatan bukan kesakitan sehingga asuhan yang diberikan efeltif bagi ibu dan memberikan kebebasan pada bidan untuk melakukan asuhan.
3. Teori Roy Adaptation Models
Pencetusnya adalah Suster Callista Roy (1960) sevagai dasarnya makhluk biopsikolsosial yang berhubungan dengan lingkungan. Tiga macam stimuli yang mempengaruhi adaptasi kesehatan dari individu yaitu :
a. Fokal Stimuli
Yaitu stimuli dari lingkungan di dekat individu, contohnya kesehatan bayi akan mempengaruhi ibu baru saja melakukan fingsinya.
b. Konseptual Stimuli
Yaitu factor-faktor umum yang mempengaruhi wanita, contohnya kondisi kehidupan yang buruk.
c. Residual Stimuli
Yaitu faktor internal meliputi kepercayaan, pengalaman dan sikap.
Model kebidanan ini berguna bagi bidan dalam melakukan pengkajian secara menyeluruh (holistic).
d. Konsep adaptasi yang dikemukakan oleh (Roy dan Andrews, 1991) dalam Araich, 2001) diasumsikan bahwa individu merupakan system terbuka dan adaptif yang dapat merespon stimulus yang datang baik dari dalam maupun dari luar.
Proses Roy adalah metode pemecahan masalah Px dengan megidentifikasikan stimulus dalam mengkaji fungsi dari adaptasi model.

Dua Proses Keperawatan ada 2 level pengkajian yaitu :
• Pengkajian perilaku Px
• Pengkajian stimulus yang mengakibatkan perilaku Px.
4. Teori Betty Neuman
A. Latar Belakang
Betty Neuman lahir di Lowel di Ohio 1924, yaitu model yang merupakan awal dari kesehatan individu dan komunitas (system klien) yang digambarkan sebagai pusat venergi yang dikelilingi oleh garis kekuatan dan pertahanan.
a. Pusatnya adalah variable fisiologis, psikologis, social kultural dan spiritual.
b. Garis kekuatan adalah kemampuan system klien untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
c. Garis pertahanan menunjukkan status kesehatan umum dari individu.

B. Dasar Perkembangan Teori dan Model
Filosofi dari perkembangan teori system Neuman adalah berdasarkan pendekatan perorangan total untuk memandang masalah pasien disekolah perawat pada Univercity of Calofornia, Los Angeles.
Asumsi dasar dari teori Neuman yaitu individu merupakan system unik dengan respon berbeda. Kurang pengetahuan, perubahan lingkungan dapat merubah stabilitas individu (fisikologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan spiritual.
Model pencegahan pada Neuman ada 3 yaitu :
a. Pencegahan primer berdasarkan teori system Neuman yaitu mengidentifikasi factor resiko dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kesehatan dan aktifitas pendidikan kesehatan.
b. Pencegahan skunder yaitu inisiatif dalam bentuk intervensi jika terjadi masalah. Perawat berperan sebagai Early Case Finding, pengorbanan setelah pasien terdiagnosa mengindap suatu penyakit.
c. Pencegahan tersier yaitu mempertahankan kesehatan. Perawat membantu dengan adaptasi dan redukdi untuk mencegah komplikasi.

TEORI YANG MEMPENGARUHI KEBIDANAN

1. Teori Reva Rubin
Menekan pada pencapaian peran sebagai ibu, dimana seorang wanita memerlukan proses belajar melalui serangkaian aktivitas. Dengan demikian, calon ibu dapat mempelajari peran yang akan di alaminya kelak sehingga ia mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi khususnya perubahan psikologis dalam kehamilan dan setelah persalinan.
Menurut Reva Rubin, seorang wanita sejak hamil sudah memiliki harapan-harapan yaitu :
a. Kesejahteraan ibu dan bayi,
b. Penerimaan dari masyarakat,
c. Penentuan identitas diri,dan
d. Mengetahui tentang arti memberi dan menerima

Perubahan umum pada perempuan hamil :
a. Ibu cenderung lebih tergantung dan lebih memerlukan perhatian, dan
b. Membutuhkan sosialisasi.

Tahap-tahap psikologis yang biasa dilalui oleh calon ibu dalam mencapai perannya :
a. Anticipatory stage
Ibu mulai melakukan latihan peran dan memerlukan interaksi dengan anak yang lain.
b. Honeymoon stage
Ibu mulai memahami sepenuhnya peran dasar yang dijalaninya. Pada tahap ini ibu memerlukan bantuan dari anggota keluarga lain.
c. Plateu stage
Ibu mencoba apakah ia mampu berperan sebagai seorang ibu. Pada tahap ini memerlukan waktu beberapa minggu sampai ibu kemudian melanjutkan sendiri.
d. Disengagement
Merupakan tahap penyelesaian latihan peran sudah berakhir, tetapi hingga saat ini peran orang tua belum jelas.
Aspek-aspek yang diidentifikasikan dalam peran ibu adalah gambaran tentang idaman, gambaran dan tubuh. Gambaran diri seorang wanita adalah pandangan wanita tentang dirinya sebagai bagian dari pengalaman dirinya, sedangkan gambaran tubuh adalah berhubungan dengan perubahan fisik yang terjadi setelah kehamilan.

Aspek yang diidentifikasikan dalam peran ibu :
a. Gambaran tentang idaman bayi sehat,
b. Gambaran tentang diri memandang tentang pengalaman yang dia lakukan,
c. Gambaran tubuh, gambaran ketika hamil dan setelah nifas.

Beberapa aktivitas penting sebelum seorang menjadi ibu :
1. Taking On (Tahapan meniru)
Seorang wanita dalam peranannya sebagai ibu akan mulai dengan meniru dan melakukan perannya sebagai ibu.
2. Taking In
Seorang wanita sedang membayangkan peran yang dilakukannya ; introjection, projection dan rejection merupakan tahap dimana wanita membedakan model-model yang sesuai dengan keinginannya.
3. Letting Go
Wanita mengingat kembali proses dan aktivitas yang sudah dilakukannya. Pada tahap ini seorang meninggalkan perannya di masa lalu.

Adaptasi psikologis pada masa post partum :
a. Respon dan dukungan dari keluarga,
b. Hubungan antara melahirkan dengan harapan-harapan,
c. Pengalaman melahirkan dan membesarkan anak yang lalu,
d. Budaya.

Reva Rubin mengklasifikasikan tahapan ini menjadi 3 tahap yaitu :
a. Periode taking In (hari pertama hingga kedua setelah melahirkan)
1. Ibu masih pasif dan tergantung pada orang lain.
2. Perhatian ibu tertuju pada kekahawatiran pada perubahan tubuhnya.
3. Ibu akan mengulangi pengalaman-pemgalaman ketika melahirkan.
4. Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan keadaan tubuh kekondisi normal.
5. Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan peningkatan nutrisi. Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian kondisi tubuh tidak berlangsung normal.

b. Periode taking hold (hari kedua hingga keempat setelah melahirkan)
1. Ibu memperhatikan kemampuan menjadi orangtua dan meningkatkan tanggungjawab akan bayinya.
2. Ibu memfokuskan perhatian dan pengontrolan fungsi tubuh, BAK, BAB, dan daya tahan tubuh.
3. Ibu cenderung terbuka menerima nasihat bidan dan kritikan pribadi.
4. Ibu berusaha untuk menguasai ketrampilan merawat bayi seperti menggendong, menyusui, memandikan dan mengganti popok.
5. Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena merasa tidak mampu membesarkan bayinya.
c. Periode letting Go
1. Ini terjadi ibu pulang ke rumah dan di pengaruhi oleh dukungan serta perhatian keluarga.
2. Ibu sudah mengambil tanggungjawab dalam merawat bayi dan memahami sehingga akan mengurangi hak ibu dalam kebebasan dan hubungan sosial.

2. Teori Ramona Mercer
Teori ini lebih menekankan pada stress antepartum (sebelum melahirkan) dalam pencapaian peran sebagai ibu.
Mercer membagi teorinya menjadi dua pokok bahasan :
a. Efek stress Anterpartum stress Anterpartum adalah komplikasi dari resiko kehamilan dan pengalaman negative dari hidup seorang wanita, tujuan asuhan adalah memberikan dukungan selama hamil untuk mengurangi ketidakpercayaan ibu.
1. Hubungan Interpersonal.
2. Peran keluarga
3. Stress Anterpartum
4. Dukungan sosial
5. Rasa percaya diri
6. Penguasaan rasa takut, ragu dan depresi.
Metode Role menurut Mercer adalah bagaimana seorang ibu mendapatkan identitas baru yang membutuhkan pemikiran dan penjabaran yang lengkap dengan dirinya sendiri.
b. Pencapaian Peran Ibu
Peran ibu dapat dicapai bila ibu menjadi dekat dengan bayinya termasuk mengekspresikan kepuasan dan penghargaan peran, lebih lanjut Mercer menyebutkan tentang stress anterpartum terhadap fungsi keluarga, baik yang positif ataupun yang negative.

Empat tahapan dalam melaksanakan peran ibu menurut Mercer :
a. Anticipatory
Saat sebelum wanita menjadi ibu, dimana wanita mulai melakukan penyesuaian sosial dan psikologis dengan mempelajari segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ibu.
b. Formal
Wanita memasuki peran ibu yang sebenarnya, bimbingan peran dibutuhkan sesuai kondisi sistem sosial.
c. Informal
Dimana wanita telah mampu menemukan jalan yang unik dalam melaksanakan perannya
d. Personal
Merupakan peran terakhir, dimana wanita telah mahir melakukan perannya sebagai ibu.
Perbandingan, Reva Rubin menyebutkan peran ibu telah dimulai sejak ibu menginjak kehamilan pada masa 6 bulan setelah melahirkan, tetapi menurut Mercer mulainya peran ibu adalah setelah bayi lahir 3-7 bulan setelah dilahirkan.
Wanita dalam menjalankan peran ibu dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
a. Faktor Ibu
1. Umur ibu pada saat melahirkan
2. Persepsi ibu pada saat melahirkan pertama kali
3. Stress social
4. Memisahkan ibu pada anaknya secepatnya
5. Dukungan sosial
6. Konsep diri
7. Sifat pribadi
8. Sikap terhadap membesarkan anak
9. Status kesehatan ibu
b. Faktor Bayi
1. Temperament
2. Kesehatan bayi
c. Faktor-faktor lainnya
1. Latar Belakang etnik
2. Status perkawinan
3. Status ekonomi

3. Teori Ernestine Wiedenback
Ernestine menekankan pada perawaan keluarga secara menyeluruh. Model ini meliputi 5 elemen :
a. The Agent : Midwife (perantara bidan)
Filosofi yang dikemukakan adalah tentang kebutuhan ibu dan bayi yang segera, untuk mengembangkan kebutuhan yang luas yaitu kebutuhan untuk persiapan menjadi orang tua. Ada 4 elemen yang ada pada diri bidan sebagai perantara, yaitu :
1. Filosofi
2. Tujuan
3. Praktik / Latihan
4. Ketrampilan
5. The Goal/Purpose
b. The Goal/Purpose (tujuan)
Disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu dengan memperhatikan tingkah laku fisik, emosional / fsikologi.
c. The Recipient (penerima)
Meliputi wanita, keluarga dan masyarakat. Recipient menurut Wiedenbach adalah individu yang mampu menentukan kebutuhan akan bantuan.

d. The Means
Metode untuk mencapai tujuan asuhan kebidanan ada 4 tahapan :
1. Identifikasi kebutuhan klien untuk menentukan ketrampilan dan ide (identification)
2. Memberikan dukungan dalam mencapai pertolongan yang dibutuhkan (ministration)
3. Memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan dan dilakukan sesuai dengan prosedur (validation)
4. Mengkoordinasikan tenaga yang ada untuk memberikan bantuan (coordination)

Dari faktor social support, Mercer mengidentifikasikan adanya 4 faktor pendukung :
a. Emotional Support
Yaitu perasaan mencintai, penuh perhatian, percaya dan mengerti.
b. Informational Support
Memberikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan ibu sehingga dapat membantu ibu untuk menolong dirinya sendiri.
c. Physical Support
Misalnya dengan membantu marawat bayi dan memberikan tambahan dana.
d. Appraisal Support
Ini memmungkinkan individu mampu mengevaluasi dirinya sendiri dan mencapai peran ibu.
Mercer menegaskan bahwa umur, tingkat pendidikan, ras, status perkawinan, status ekonomi, dan konsep diri adalah faktor-faktor yang sangat berpengaruh dalam pencapaian peran ibu. Peran bidan yang diharapkan oleh Mercer dalam teorinya adalah membantu wanita dalam melaksanakan tugas dan adaptasi peran dan mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian peran ini dan konstribusi dari stress antepartum.

4. Teori Ela Joy Lehrman dan Morten
Teori ini mengharapkan bidan dapat melihat semua aspek dalam memberikan asuhan ibu hamil dan bersalin, Lehrman dan Morten mengemukakan delapan konsep penting dalam pelayanan antenatal :
a. Asuhan kebidanan yang berkesinambungan
b. Keluarga sebagai pusat kebidanan
c. Pendidikan dan konseling merupakan bagian dari asuhan
d. Tidak ada intervensi dalam asuhan kebidanan
e. Keterlibatan dalam asuhan kebidanan
f. Advikasi dari pelayanan kebidanan
g. Waktu

Morten (1991) menambahkan tiga macam dalam teori Lehrman :
a. Tehnik Teurapetik
Proses komunikasi sangat bermanfaat dalam proses perkembangan dan penyembuhan, misalnya :
• Mendengar aktif
• Mengkaji
• Klasifikasi
• Humor
• Sikap yang tidak menuduh
• Pengakuan
• Fasilitasi
• Pemberian izin

b. Pemberdayaan
Suatu proses memberi kekuasaan dan kekuatan, bidan ini melalui penampilan dan pendekatannya hendaknya akan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengoreksi, memvalidasi, menilai dan memberi dukungan.

c. Hubungan dengan sesama (reteral relationship)
Menjalin hubungan yang baik dengan klien, bersikap terbuka, sejalan dengan klien. Sehingga bidan dan klien terlihat akrab. Misalnya sifat empati dan membagi pengalaman.

Relationship of midfery care identified by Ela-Joy Lehrman
And Morten ; at all.
5. Teori Jean Ball
Menurut Jean Ball emosional terhadap perubahan setelah melahirkan akan dipengaruhi personaliti seseorang. Hal ini terjadi karena perubahan setelah melahirkan.
a. Ada 2 teori Jean Ball yaitu :
• Teori Stress
• Teori Dasar
b. Ball menemukan teori Kursi Goyang terdiri dari 3 elemen, yaitu :
1. Pelayanan maternitas
2. Pandangan masyarakat terhadap keluarga
3. Sisi penyangga support terhadap kepribadian keluarga.
Sehingga keseimbangan emosional seseorang wanita sangat tergantung pada ketiga elemen tersebut diatas, hal ini tergambar pada bagan di bawah ini :

Concequences for Practice
Factors identified Jean Ball as affecting maternal emotional well-being
6. Teori Orem
1. Apabila ingin merawat orang lain harus dapat merawat diri sendiri
2. Ketidakmampuan marawat diri sendiri harus banyak intropeksi.

Ada tiga yang terkait di dalamnya :
1. Self Care Teori
Teori ini menekankan bahwa setiap orang mempunyai kebutuhan untuk merawat dirinya sendiri dan berhak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri kecuali jika tidak memungkinkan orang yang biasa memenuhi kebutuhan Self Care sendiri disebut Self Care Agent. Sedangkan bagi anak, orang sakit berat atau tidak sadar, keluarga atau orang tua merupakan Dependent Care Agent.
Self Care Agent adalah orang yang dapat memenuhi kebutuhan self dependent care agent bayi, anak, orang yang tidak sadar atau sakit berat, termasuk perawat dan keluarga.

Kebutuhan self care dibagi tiga kategori :
a. Universal Self Care
Disebut dasar manusia yaitu meliputi ; kebutuhan udara, air, makanan, eliminasi, keseimbangan aktivitas dan istirahat.
b. Development Self Care
Kebutuhan yang timbul menurut tahap perkembangan individu dan lingkungan dimana individu tersebut berada, sehingga kebutuhan ini dihubungkan dengan siklus kehidupan manusia.
c. Health Self Care
Kebutuhan yang ada jika seseorang kesehatanya terganggu yang mengakibatkan perubahan perilaku self care.

2. Self Care Defisit Teori
Bila individu mampu untuk memenuhi tentunya self care maka kebutuhan untuk merawat dirinya sendiri akan terpenuhi, tetapi bila tuntutan lebih besar dari kemampuan maka terjadi ketidakseimbangan yang disebut Self Care Defisit hal ini merupakan inti teori dari Orem sehingga dapat ditentukan kapan asuhan kebidanan itu dibutuhkan.

Tujuan untuk memenuhi kebutuhan self care dapat dicapai dengan cara :
1. Menurunkan kebutuhan Self Care ketahap dimana pasien dapat memenuhinya.
2. Meningkatkan kemampuan pasien untuk dapat memenuhi self care
3. Mengizinkan keluarga atau orang lain untuk memberikan Dependent care bila self care tidak memungkinkan.
4. Jika hal tersebut tidak dapat dilaksanakan maka bidan yang akan melaksanakannya. Bantuan yang dapat diberikan adalah berupa berperan ataumelakukan, membimbing, mendukung dan menciptakan lingkungan yang menunjang tumbuh kembang.

3. Nursing system Teori
Perawatan, kemampuan merawat diri harus diterapkan pada Px.

Lima metode bantuan untuk memenuhi kebutuhan self care :
1. Berperan melakukan
2. Mengajak atau menyuluh
3. Membimbing
4. mendukung
5. Menciptakan lingkungan yang dapat menunjang tunjangan untuk dapat melaksanakan bantuan kepada orang sakit dan aspek yang perlu diperhatikan :
• Menjalin hubungan yang baik dengan pasien
• Menentukan bantuan yang dibutuhkan pasien dalam memenuhi kebutuhan
• Memberikan bantuan langsung bersama pasien atau keluarga, orang lain yang akan melakukan asuhan sesuai kebutuhan pasien
• Merencanakan bantuan langsung bersama pasien, keluarga ataiorang lain yang akan melakukan asuhan.

 

Mukjizat Silaturohim Oktober 4, 2009

Filed under: Uncategorized — arcapasa @ 5:21 am

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah.

Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? “Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan adalah pahala orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah siksaan bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan” (HR. Ibnu Majah).

Silaturahmi tidak sekedar bersentuhan tangan atau memohon maaf belaka. Ada sesuatu yang lebih hakiki dari itu semua, yaitu aspek mental dan keluasan hati. Hal ini sesuai dengan asal kata dari silaturahmi itu sendiri, yaitu shilat atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun, dan ar-rahiim yang berarti kasih sayang. Makna menyambungkan menunjukkan sebuah proses aktif dari sesuatu yang asalnya tidak tersambung. Menghimpun biasanya mengandung makna sesuatu yang tercerai-berai dan berantakan, menjadi sesuatu yang bersatu dan utuh kembali. Tentang hal ini Rasulullah SAW bersabda, “Yang disebut bersilaturahmi itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus” (HR. Bukhari).

Kalau orang lain mengunjungi kita dan kita balas mengunjunginya, ini tidak memerlukan kekuatan mental yang tinggi. Boleh jadi kita melakukannya karena merasa malu atau berhutang budi kepada orang tersebut. Namun, bila ada orang yang tidak pernah bersilaturahmi kepada kita, lalu dengan sengaja kita mengunjunginya walau harus menempuh jarak yang jauh dan melelahkan, maka inilah yang disebut silaturahmi. Apalagi kalau kita bersilaturahmi kepada orang yang membenci kita, seseorang yang sangat menghindari pertemuan dengan kita, lalu kita mengupayakan diri untuk bertemu dengannya. Inilah silaturahmi yang sebenarnya.

Rasulullah SAW pernah memberikan nasihat kepada para sahabat, “Hendaklah kalian mengharapkan kemuliaan dari Allah”. Para sahabat pun bertanya, “Apakah yang dimaksud itu, ya Rasulullah?” Beliau kemudian bersabda lagi, “Hendaklah kalian suka menghubungkan tali silaturahmi kepada orang yang telah memutuskannya, memberi sesuatu (hadiah) kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepada kalian, dan hendaklah kalian bersabar (jangan lekas marah) kepada orang yang menganggap kalian bodoh” (HR. Hakim).

Dalam hadis lain dikisahkan pula, “Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” tanya Rasulullah SAW kepada para sahabat. “Tentu saja,” jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyembungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, menjembatani berbagai kelompok dalam Islam, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shalih yang besar pahalanya. Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi” (HR. Bukhari Muslim).

Sahabat, bagaimana mungkin hidup kita akan tenang kalau di dalam hati masih tersimpan kebenciaan dan rasa permusuhan kepada sesama muslim. Perhatikan keluarga kita, kaum yang paling kecil di masyarakat. Bila di dalamnya ada beberapa orang saja yang sudah tidak saling tegur sapa, saling menjauhi, apalagi kalau di belakang sudah saling menohok, menggunjing, dan memfitnah, maka rahmat Allah akan dijauhkan dari rumah tersebut. Dalam skala yang lebih luas, dalam lingkup sebuah negara, bila di dalamnya sudah ada kelompok yang saling jegal, saling fitnah, atau saling menjatuhkan, maka dikhawatirkan bahwa bangsa dan negara tersebut akan terputus dari rahmat dan pertolongan Allah SWT.

Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Sebagai umat yang besar, kaum muslim memang diwajibkan ada yang terjun di bidang politik, ekonomi, hukum, dsb, karena tanpa itu kita akan dipermainkan dan kepentingan kita tidak ternaungi secara legal di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, berbagai kelompok yang ada harus dijadikan sarana berkompetisi untuk mencapai satu tujuan mulia, tidak saling menghancurkan dan berperang, bahkan lebih senang berkoalisi dengan pihak lain. Sebagai umat yang taat, kita berkewajiban untuk mendukung segala kegiatan yang menyatukan langkah berbagai kelompok kaum muslimin dan mempererat tali persaudaraan diantara kita semua.
Wallahu’alam.silaturahmi2

 

Syurga di Bawah Ridlo Bunda

Filed under: Uncategorized — arcapasa @ 5:13 am

“Al-Jannatu tahta aqdamil ummahat – Surga itu di telapak kaki ibu”, awalnya tak pernah terbayang seperti apa dan kenapa surga mesti di telapak kaki ibu? Padahal ayah adalah pemegang tanggung jawab dalam keluarga. Saat kita mulai ingat akan segala sesuatu di dunia ini, mungkin tidak banyak mereka yang menyadari hadits pendek namun padat makna itu.

Bahkan sering kita mendengar begitu banyak anak yang tega berbuat aniaya terhadap ibunya. Sering kita mendengar dan menyaksikan berita yang dimuat baik itu di media cetak ataupun elektronik. Sehingga kadang ironis nya tidak sedikit pula anak yang tega menghabisi nyawa ibunya tanpa alasan yang jelas.

Sungguh miris hati ini rasanya jika kita mendegar hal seperti itu. Di zaman yang semakin maju dengan dukungan teknologi canggih pun kita masih disuguhkan dengan berbagai isu dan berita seperti itu. Tak habis pikir kenapa mereka berbuat tega seperti itu.

Tapi kadang hati ini seperti tidak pernah tersentuh ketika mendengar kabar berita tersebut. Hati ini masih sering membuat ibu menangis, bahkan mungkin secara tidak sadar masih sering lupa akan apa yang pernah ibu berikan. Padahal hati ibu, kasih sayang nya tidak akan pernah luntur meski hujan badai menerjang. Tidak akan pernah sirna ditelan zaman.

Ibu masih terngiang suaramu meski saat ini jarak memisahkan aku dari mu. Sentuhan lembut jari mu di masa kanak-kanakku masih terasa menemani hari-hari ku. Bahkan semua itu menjadi inspirasi dan motifasi bagiku untuk menjalani hari-hari dalam hidupku yang penuh dengan liku-liku. Saat aku jauh, lidah mu tidak pernah kering dari doa untuk kebaikan anak mu. Semua kau lakukan tanpa menuntut pamrih dan balas jasa anak mu. Tapi apa, apa yang anak mu berikan kepada mu? Semua belum sepadan dengan apa yang telah kau berikan pada ku.

Setiap detik dan pergantian hari, kau asuh anak mu. Kau sapih dua tahun lamanya, tapi kau tidak pernah meminta imbalan dari anak mu. Bahkan sebaliknya terkadang anak mu tidak bisa membalas budi baik mu. Sebaliknya bayak sekali sikap ku melukai hatimu, tapi kau tetap memaafkan sikap anak mu.

Sungguh, aku bukan lah anak yang baik yang bisa memberikan balas budi untuk mu. Waktu yang mengantarkan ku pada kehidupan nyata telah banyak menorehkan prasasti tak terilai dari mu. Tapi aku sering lupa, lupa akan apa yang telah engkau berikan kepada ku. Maaf kan anak mu yang telah lalai terhadap semua jasamu.

Mungkin kelahiran anak pertama ku dua hari yang lalu telah memberikan gambaran betapa beratnya perjuangan mu untuk melahirkan ku. Karena aku menyaksikan sendiri bertapa beratnya isteriku melahirkan anak ku. Perjuangan antara hidup dan mati, saat detik-detik melahirkan telah menyadarkan ku betapa luasnya kasih sayang mu yang tidak akan pernah sanggup bagi ku untuk membalasnya.

Terimakasih ibu atas semua jasamu, aku berharap kehadiran cucu mu akan memberikan motifasi bagi ku untuk lebih meningkatkan rasa hormatku kepadamu. Dan aku berhaaarap kehadiran cucu mu bisa menjadi obat segala luka yang pernah tergores akibat sikap ku. Mungkin aku baru sadar bahwa memang surga itu ditelapak kaki ibu.

Terimakasih ibu…azzahraa

 

Amalan Asma-ul Husna untuk Membuka Pintu Rejeki

Filed under: Uncategorized — arcapasa @ 2:26 am

Allah memiliki 99 nama yang indah atau lebih terkenal dengan sebutan Al-Asma-ul-Husna. Nama-nama tersebut merupakan cerminan dari perilaku Allah terhadap umatnya. Karena itu, jika nama-nama tersebut kita sebut sebagai suatu permohonan, niscaya akan mempunyai pengaruh yang sangat besar.

Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna telah tercermin dalam firman Allah:
“Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Surat Al-A’rof Ayat 180).